ILMU PENGETAHUAN
PENGERTIAN
1. Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi;
2. Oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin;
3. Menurut Immanuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman;
4. Dan teori Phyroo mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam pengetahuan.
Dari berbagai macam pandangan tentang pengetahuan diperoleh sumber-sumber pengetahuan berupa ide, kenyataan, kegiatan akal-budi, pengalaman, sintesis budi, atau meragukan karena tak adanya sarana untuk mencapai pengetahuan yang pasti.
Langkah-langkah memperoleh ilmu dan objek ilmu meliputi rangkaian kegiatan dan tindakan, dimulai dengan :
1. Pengamatan yaitu suatu kegiatan yang diarahkan kepada fakta yang mendukung apa yang dipikirkan untuk sistemasi, kemudian menggolong-golongkan dan membuktikan dengan cara berpikir analisis, sintesis, induktif dan deduktif;
2. Yang terakhir ialah pengujian kesimpulan dengan menghadapkan fakta-fakta sebagai upaya mencari berbagai hal yang merupakan pengingkaran.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah meliputi 4 (empat) hal :
1. Tidak ada perasaan bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif;
2. Selektif, artinya mengadakan pemilihan tehadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada;
3. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu;
4. Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka dibuktikan kembali.
Penelitian dasar bertujuan utama menambah pengetahuan ilmiah, sedangkan penelitian terapan adalah untuk menerapkan secara praktis pengetahuan ilmiah.
TEKNOLOGI
Dunia moderen yang dibentuk oleh teknologi menghadapi 3 (tiga) krisis sekaligus :
1. Sifat kemanusian berontak terhadap pola-pola politik, organisasi dan teknologi yang tidak berperikemanusiaan yang terasa menyesakkan napas dan melemahkan badan.
2. Lingkungan hidup menderita menunjukkan tanda-tanda setengah binasa;
3. Penggunaan sumber daya yang tidak dapat dipulihkan, seperti bahan bakar, fosil, sedemikian rupa sehingga akan terjadi kekurangan sumber daya tersebut
menurut Sastrapratedja (1980) teknologi memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
• Rasionalitas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional;
• Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah;
• Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis. Demikian pula dengan teknik mampu mengelimkinasikan kegiatan non-teknis menjadi kegiatan teknis;
• Teknis berkembang pada suatu kebudayaan;
• Monisme, artinya semua teknis bersatu, saling berintekasi dan saling bergantung;
• Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ideologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan;
• Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Luasnya bidang teknik, digambarkan Jacques Ellul (The Technological Society – 1964), sebagai berikut :
1. Teknik meliputi bidang ekonomi;
2. Tenik meliputi bidang organisasi;
3. Teknik, meliputi bidang manusia
Manusia pada saat ini telah begitu jauh dipengaruhi oleh teknik. Gambaran kondisi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Situasi tertekan;
2. Perubahan ruang dan lingkungan manusia;
3. Perubahan waktu dan gerak manusia;
4. Terbentuknya suatu masyarakat massa;
5. Teknik-teknik manusia dalam arti ketat.
Ciri-ciri Teknologi Barat
1. Serba intensif dalam segala hal, seperti modal, organisasi, tenaga kerja, dll.
2. Dalam struktur sosial, teknologi barat bersifat melestarikan sifat ketergantungan;
3. Kosmologi atau pandangan teknologi barat menganggap dirinya sebagai pusat feriferi, waktu berkaitan dengan kemajuan secara linier.
ILMU PENGETAHUAN TEKNOLOGI DAN NILAI
Menyangkut 2 pemikiran:
• Yang menyatakan ilmu bebas nilai dan;
• Yang menyatakan ilmu tidak bebas nilai.
KEMISKINAN
PENGERTIAN
Kemiskinan adalah kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok, dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. (Emil Salim – 1982).
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh 3 (tiga) hal, yaitu :
(1) Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan;
(2) Posisi manusia dalam lingkungan sekitar, dan;
(3) Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
Dasar ukuran yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri, sebagai berikut :
a. Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan dan sebagainya;
b. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha;
c. Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar, karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan;
d. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (self employed) berusaha apa saja;
e. Banyak yang hidup di kota berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan.
Kemiskinan menurut orang lapangan (umum) dapat dikategorikan kedalam 3 (tiga) unsur, yaitu :
1. Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang;
2. Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam, dan;
3. Kemiskinan buatan (buatan manusia terhadap manusia pula yang disebut kemiskinan struktural : struktur ekonomi, politik, sosial, maupun kultur).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.