Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang kehidupannya yang terasa berat ..
Si anak tidak tahu bagaimana mnghadapi semua persoalan yang berat itu dan hampir saja menyerah. Ia sudah lelah untk berjuang.
Si anak merasa bahwa setiap masalah selesaI, timbul masalah baru yang lebih berat lagi.
Ayahnya yang seorang koki lalu membawanya ke dapur dan ia mengisi 3 panci dengan air dan mnaruhnya diatas api.
Setelah panci itu mendidih, sang Ayah pun menaruh wortel, telur dan kopi di setiap panci nya dan ia mmbiarkannya mendidih.
Kemudian sang Ayah menaruh Wortel, telur dan kopi disetiap mangkuk, kemudian brtanya pada anaknya “Apa yg kau lihat, nak ? ” .
ayahnya mengajak si anak untuk mendekati ketiga mangkuk tersebut. Apa yang dikatakan sang Ayah ?.
Sang Ayah menerangkan pada anaknya bahwa ketiganya mnghadapi “kesulitan” yang sama yaitu direbus.
Namun dengan “kesulitan” yang sama masing2x dari mereka menunjukan reaksi yang berbeda.
Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan namun setelah direbus menjadi lembut dan lunak.
Telur sebelum direbus mudah pecah namun setelah direbus isinya menjadi keras dari sebelum nya.
Kopi mengalami perubahan yang unik, setelah berada dalam rebusan air, justru bubuk kopi yang merubah air tersebut.
Pertanyaan sang Ayah kepada Anak nya sederhana. “Kamu termasuk yang mana ?”.
Apakah kita seperti wortel yang kelihatan keras, namun setelah ada ujian kita menyerah dan menjadi lunak.
Atau seperti telur yang awalnya memiliki hati yang lembut jiwa yang dinamis, namun setelah ada ujian hati mnjadi kaku dan keras.
Jadi lah kopi karena bubuk kopi merubah air panas, semakin panas kopi akan semakin nikmat.
Jika kamu seperti kopi, ketika keadaan Menjadi buruk kamu akan menjadi semakin baik, dan menularkan kebaikan di sekitarmu.
Ingat, bahwa Allah tidak akan membebani seorang hamba diluar kemampuannya.
"berjalanlah walau tertatih kawan, hadapi dunia dengan senyuman"
-Naff-Tetap Berjalan-
Salam Semangat
Khaika13
tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau mencoba, berusaha, dan berdoa:)
Rabu, 11 Januari 2012
Jadilah Pilot
Ada yang berkata, “Berwirausaha itu modal utamanya semangat dan berani, bukan ilmu.” Apakah Anda sependapat? Mengenai “berwirausaha” ini akan dijelaskan dengan perumpamaan: berjalan, bersepeda, sopir dan pilot.
Untuk berjalan Anda tidak perlu belajar ilmu tertentu. Secara alamiah setiap orang sudah mempelajarinya sejak kecil. Mereka yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan. Tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berjalan. Begitu pula dalam berbisnis, saat bisnis sederhana tak perlu ilmu dan keahlian khusus untuk menanganinya.
Ketika ingin bisa bersepeda Anda perlu belajar. Tidak semua orang bisa dan mahir bersepeda. Anda akan terjatuh bila tidak memiliki ilmu bersepeda. Begitu pula dalam berbisnis, pada tingkatan tertentu bisnis harus ditangani dengan sedikit ilmu dan kemampuan yang memadai.
Saat Anda ingin mengendarai mobil persyaratannya lebih banyak lagi. Tidak semua orang yang bisa mengendarai sepeda atau motor otomatis bisa menjadi sopir. Begitu pula dalam berbisnis, bisnis yang semakin komplek memerlukan ilmu dan keahlian yang lebih banyak. Bila tidak, risikonya besar dan bisa membuat susah banyak orang.
Nah, apalagi jika Anda ingin menerbangkan pesawat. Ilmu dan keterampilannya harus lebih canggih lagi. Hanya orang-orang tertentu yang mampu menerbangkan pesawat, jumlahnya sangat sedikit. Tentu Anda tidak mau naik pesawat yang diterbangkan oleh seorang sopir walaupun ia semahir Michael Schumaker atau Sebastian Vettel sekalipun. Begitu pula dalam berbinis, ketika bisnis semakin berisiko diperlukan orang dengan keahlian khusus untuk menanganinya.
Intinya, semakin komplek dan berisiko bisnis Anda semakin perlu keahlian khusus yang Anda miliki. Maka tak heran walau sama-sama pebisnis tetapi hasilnya berbeda. Karena, ibaratnya yang satu sopir yang satu pilot, bayaran sopir dengan pilot selisihnya begitu besar.
Maka tak perlu heran bila pebisnis yang piawai semakin hari semakin kaya dan bertumbuh karena dia sudah menjadi seorang pilot. Perhatikanlah, kita dengan pak Chairul Tanjung tampak tak begitu banyak bedanya. Apa yang dilakukan bos CT Corp ini bisa juga kita lakukan. Yang jelas-jelas membedakan kita dengan beliau hanya satu, dalam waktu 5 menit lelaki visioner ini bisa menghasilkan keputusan bisnis yang memberikan keuntungan milyaran rupiah. Kita?
Jadi, teruslah bertumbuh, berlatih dan belajar agar Anda bisa menerbangkan bisnis Anda laiknya pilot yang mampu menerbangkan pesawat terbang jumbo jet!
Untuk berjalan Anda tidak perlu belajar ilmu tertentu. Secara alamiah setiap orang sudah mempelajarinya sejak kecil. Mereka yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan. Tidak perlu keahlian khusus untuk bisa berjalan. Begitu pula dalam berbisnis, saat bisnis sederhana tak perlu ilmu dan keahlian khusus untuk menanganinya.
Ketika ingin bisa bersepeda Anda perlu belajar. Tidak semua orang bisa dan mahir bersepeda. Anda akan terjatuh bila tidak memiliki ilmu bersepeda. Begitu pula dalam berbisnis, pada tingkatan tertentu bisnis harus ditangani dengan sedikit ilmu dan kemampuan yang memadai.
Saat Anda ingin mengendarai mobil persyaratannya lebih banyak lagi. Tidak semua orang yang bisa mengendarai sepeda atau motor otomatis bisa menjadi sopir. Begitu pula dalam berbisnis, bisnis yang semakin komplek memerlukan ilmu dan keahlian yang lebih banyak. Bila tidak, risikonya besar dan bisa membuat susah banyak orang.
Nah, apalagi jika Anda ingin menerbangkan pesawat. Ilmu dan keterampilannya harus lebih canggih lagi. Hanya orang-orang tertentu yang mampu menerbangkan pesawat, jumlahnya sangat sedikit. Tentu Anda tidak mau naik pesawat yang diterbangkan oleh seorang sopir walaupun ia semahir Michael Schumaker atau Sebastian Vettel sekalipun. Begitu pula dalam berbinis, ketika bisnis semakin berisiko diperlukan orang dengan keahlian khusus untuk menanganinya.
Intinya, semakin komplek dan berisiko bisnis Anda semakin perlu keahlian khusus yang Anda miliki. Maka tak heran walau sama-sama pebisnis tetapi hasilnya berbeda. Karena, ibaratnya yang satu sopir yang satu pilot, bayaran sopir dengan pilot selisihnya begitu besar.
Maka tak perlu heran bila pebisnis yang piawai semakin hari semakin kaya dan bertumbuh karena dia sudah menjadi seorang pilot. Perhatikanlah, kita dengan pak Chairul Tanjung tampak tak begitu banyak bedanya. Apa yang dilakukan bos CT Corp ini bisa juga kita lakukan. Yang jelas-jelas membedakan kita dengan beliau hanya satu, dalam waktu 5 menit lelaki visioner ini bisa menghasilkan keputusan bisnis yang memberikan keuntungan milyaran rupiah. Kita?
Jadi, teruslah bertumbuh, berlatih dan belajar agar Anda bisa menerbangkan bisnis Anda laiknya pilot yang mampu menerbangkan pesawat terbang jumbo jet!
Jumat, 06 Januari 2012
Pembunuhan, Misteri dan Kaum Bohemia di Lokasi Bersejarah Sydney
Sejarah masa lalu Sydney kaya akan cerita. Di antara gang-gang yang tersembunyi dan jalan-jalan rahasia kota ini, berbagai macam seniman, penjahat, penari telanjang, aktivis dan pelacur berbagi kehidupan.
Inilah kota yang menjadi hidup karena anarki dan monopoli rum pada masa kolonisasi. Sydney kemudian berubah menjadi kota dengan geng kriminal, rumah bordil dan kasus pembunuhan misterius. Tetapi sejarah kota ini juga melibatkan para seniman, penulis, dan kelompok-kelompok rahasia.
Berikut beberapa tempat yang sreing menjadi tongkrongan para karakter dari masa lalu Sydney tersebut.
1. Hero of Waterloo, The Rocks
Dulu, para pemabuk akan dibawa ke terowongan di bawah hotel ini. Saat terbangun, mereka sudah berada di tengah laut.Salah satu pub tertua di Sydney, Hero of Waterloo menjadi tempat minum favorit bagi para tentara di tahun 1840-an.
Para penyelundup rum juga menyukai hotel yang dibangun oleh para narapidana ini. Terowongan di bawah tanah hotel terhubung ke pelabuhan, sehingga para penyelundup bisa aman mengantar barang.
Terowongan ini juga memiliki kegunaan lain, seperti sudah disebut di atas, merekrut paksa anak-anak muda untuk menjadi pelaut.
Menurut legenda lokal, pria-pria yang mabuk di bar ini kemudian akan dijatuhkan lewat pintu perangkap ke bawah tanah, diseret sepanjang terowongan, dan ketika mereka bangun esok paginya, mereka sudah berada di kapal di tengah laut.
Hero of Waterloo, 81 Lower Fort St., The Rocks, +61 (0)2 9252 4553
2. Elizabeth Bay House, Elizabeth Bay
Rumah terindah yang menjadi pusat pesta dan kini menjadi museum.Mendapat julukan "Rumah terindah di koloni", Elizabeth Bay House menjadi tempat berlangsungnya pesta-pesta besar pada 1830-an.
Tapi seabad kemudian, rumah gaya Regency di pinggir pelabuhan ini menjadi tuan rumah buat pesta-pesta yang berbeda.
Dari 1928-1935, rumah ini menjadi tempat tinggal ilegal bagi seniman seperti Wallace Thornton dan Wolfgang Cardamatis.
Pada 1940-an, ada 16 ruang tidur di rumah ini. Seniman Donald Fried juga pernah tinggal di sini dan menggambar sketsa sebuah pesta liar dengan tamu-tamu meluncur di tangga rumah.
Kini, Elizabeth Bay House dibuka untuk umum sebagai museum.
Elizabeth Bay House, 7 Onslow Ave., Elizabeth Bay. Open Friday-Sunday 9.30 a.m.-4 p.m., +61 (0)2 9356 3022, http://www.hht.net.au/
3. The Suez Canal, The Rocks
Gang-gang ini dulu menjadi tempat beroperasinya kelompok penjahat.Harrington Lane kini lebih sering dikenal dengan nama Terusan Suez (plesetan dari "sewers" atau got). Pada 1870-an kawasan ini adalah daerah kekuasaan geng kriminal Rocks Push.
Anggota geng ini terdiri dari bekas narapidana, gelandangan, dan pelacur. Mereka akan menantang rivalnya untuk berebut daerah kekuasaan, datang ke rumah bordil di sekitar situ dan tempat mengisap opium, serta terlibat dalam kejahatan kecil. Pelaut yang mabuk sering menjadi korban geng ini, setelah digoda oleh anggota perempuan geng. Para pelaut itu kemudian diserang dan dirampok.
Penghancuran kawasan ini pada awal 1900-an menjadi penyebab utama berakhirnya kekuasaan geng tersebut, tapi Suez Canal tetap berdiri.
Suez Canal terletak antara jalan George dan Harrington. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: http://www.shfa.nsw.gov.au/
4. Curlew Camp, Mosman
Lokasi yang menjadi inspirasi beberapa karya seni terbaik Australia.Di bawah Taronga Zoo, di pantai timur Little Sirius Cove, sebuah permukiman seniman muncul pada 1880an.
Terkenal dengan nama Curlew Camp, seniman Arthur Streeton dan Tom Roberts adalah sebagian dari mereka yang pernah tinggal di sini dan menciptakan lukisan-lukisan termasyhur mereka.
Di tempat ini pernah berdiri selusin tenda, termasuk satu untuk makan malam, lengkap dengan area berdansa dan piano kecil.
Para pengunjung bisa mengikuti jejak para seniman di tempat ini dalam tur Mosman Council's Curlew Camp Artists' Walk.
Curlew Camp Artists' Walk, Mosman Council, +61 (0)2 9978 4000
5. East Village Hotel, Darlinghurst
The East Village adalah tempat minum-minum geng kriminal "Razor Gangs".Razor Gangs mendominasi dunia kejahatan Sydney pada 1920-an. Mereka suka nongkrong di Tradesmen's Arms — rumah berdarah yang kini berubah menjadi Hotel East Village.
Dua madam Kate Leigh dan Tilly Devine menjadi tuan rumah bagi dua geng utama dengan senjata utama pisau silet, untuk meninggalkan bekas luka pada korban-korban mereka.
Devine menghabiskan hidupnya di pub — karena sekitar 30 atau lebih bordil yang ia miliki hanya berjarak beberapa blok di sepanjang Palmer Street.
East Village Hotel, 234 Palmer St., Darlinghurst. +61 (0)2 9331 5457, info
Inilah kota yang menjadi hidup karena anarki dan monopoli rum pada masa kolonisasi. Sydney kemudian berubah menjadi kota dengan geng kriminal, rumah bordil dan kasus pembunuhan misterius. Tetapi sejarah kota ini juga melibatkan para seniman, penulis, dan kelompok-kelompok rahasia.
Berikut beberapa tempat yang sreing menjadi tongkrongan para karakter dari masa lalu Sydney tersebut.
1. Hero of Waterloo, The Rocks
Dulu, para pemabuk akan dibawa ke terowongan di bawah hotel ini. Saat terbangun, mereka sudah berada di tengah laut.Salah satu pub tertua di Sydney, Hero of Waterloo menjadi tempat minum favorit bagi para tentara di tahun 1840-an.
Para penyelundup rum juga menyukai hotel yang dibangun oleh para narapidana ini. Terowongan di bawah tanah hotel terhubung ke pelabuhan, sehingga para penyelundup bisa aman mengantar barang.
Terowongan ini juga memiliki kegunaan lain, seperti sudah disebut di atas, merekrut paksa anak-anak muda untuk menjadi pelaut.
Menurut legenda lokal, pria-pria yang mabuk di bar ini kemudian akan dijatuhkan lewat pintu perangkap ke bawah tanah, diseret sepanjang terowongan, dan ketika mereka bangun esok paginya, mereka sudah berada di kapal di tengah laut.
Hero of Waterloo, 81 Lower Fort St., The Rocks, +61 (0)2 9252 4553
2. Elizabeth Bay House, Elizabeth Bay
Rumah terindah yang menjadi pusat pesta dan kini menjadi museum.Mendapat julukan "Rumah terindah di koloni", Elizabeth Bay House menjadi tempat berlangsungnya pesta-pesta besar pada 1830-an.
Tapi seabad kemudian, rumah gaya Regency di pinggir pelabuhan ini menjadi tuan rumah buat pesta-pesta yang berbeda.
Dari 1928-1935, rumah ini menjadi tempat tinggal ilegal bagi seniman seperti Wallace Thornton dan Wolfgang Cardamatis.
Pada 1940-an, ada 16 ruang tidur di rumah ini. Seniman Donald Fried juga pernah tinggal di sini dan menggambar sketsa sebuah pesta liar dengan tamu-tamu meluncur di tangga rumah.
Kini, Elizabeth Bay House dibuka untuk umum sebagai museum.
Elizabeth Bay House, 7 Onslow Ave., Elizabeth Bay. Open Friday-Sunday 9.30 a.m.-4 p.m., +61 (0)2 9356 3022, http://www.hht.net.au/
3. The Suez Canal, The Rocks
Gang-gang ini dulu menjadi tempat beroperasinya kelompok penjahat.Harrington Lane kini lebih sering dikenal dengan nama Terusan Suez (plesetan dari "sewers" atau got). Pada 1870-an kawasan ini adalah daerah kekuasaan geng kriminal Rocks Push.
Anggota geng ini terdiri dari bekas narapidana, gelandangan, dan pelacur. Mereka akan menantang rivalnya untuk berebut daerah kekuasaan, datang ke rumah bordil di sekitar situ dan tempat mengisap opium, serta terlibat dalam kejahatan kecil. Pelaut yang mabuk sering menjadi korban geng ini, setelah digoda oleh anggota perempuan geng. Para pelaut itu kemudian diserang dan dirampok.
Penghancuran kawasan ini pada awal 1900-an menjadi penyebab utama berakhirnya kekuasaan geng tersebut, tapi Suez Canal tetap berdiri.
Suez Canal terletak antara jalan George dan Harrington. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: http://www.shfa.nsw.gov.au/
4. Curlew Camp, Mosman
Lokasi yang menjadi inspirasi beberapa karya seni terbaik Australia.Di bawah Taronga Zoo, di pantai timur Little Sirius Cove, sebuah permukiman seniman muncul pada 1880an.
Terkenal dengan nama Curlew Camp, seniman Arthur Streeton dan Tom Roberts adalah sebagian dari mereka yang pernah tinggal di sini dan menciptakan lukisan-lukisan termasyhur mereka.
Di tempat ini pernah berdiri selusin tenda, termasuk satu untuk makan malam, lengkap dengan area berdansa dan piano kecil.
Para pengunjung bisa mengikuti jejak para seniman di tempat ini dalam tur Mosman Council's Curlew Camp Artists' Walk.
Curlew Camp Artists' Walk, Mosman Council, +61 (0)2 9978 4000
5. East Village Hotel, Darlinghurst
The East Village adalah tempat minum-minum geng kriminal "Razor Gangs".Razor Gangs mendominasi dunia kejahatan Sydney pada 1920-an. Mereka suka nongkrong di Tradesmen's Arms — rumah berdarah yang kini berubah menjadi Hotel East Village.
Dua madam Kate Leigh dan Tilly Devine menjadi tuan rumah bagi dua geng utama dengan senjata utama pisau silet, untuk meninggalkan bekas luka pada korban-korban mereka.
Devine menghabiskan hidupnya di pub — karena sekitar 30 atau lebih bordil yang ia miliki hanya berjarak beberapa blok di sepanjang Palmer Street.
East Village Hotel, 234 Palmer St., Darlinghurst. +61 (0)2 9331 5457, info
Rabu, 04 Januari 2012
Hidup yang semakin bermakna
1. Orang yang bermental miskin itu sibuk mencari uang. Orang yang bermental kaya sibuk mencari ide, peluang dan mitra kerja. (Jamil Azzaini)
Penjelasan:
Bila Anda sibuk mengejar uang maka Anda akan diperbudak oleh uang, namun bila Anda sibuk mencari ide, peluang kemudian Anda realisasikan dalam suatu kegiatan di dukung mitra kerja yang hebat maka uang akan mengejar Anda. Percayalah!
2. Hidup yang paling nikmat adalah Anda mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi Anda kemudian dibayar mahal (Jamil Azzaini)
Penjelasan:
Tiger Wood mencintai golf, hobinya bermain golf setelah itu mendapat bayaran mahal. Bill Gates mencintai dan hobi dengan komputer dan ia mendapat bayaran mahal bahkan menjadi orang terkaya di dunia. BJ Habibie mencintai dan hobi dengan segala hal yang berhubungan dengan pesawat terbang dan ia mendapat bayaran (royalti) mahal dari berbagai perusahaan pesawat terbang. Jadi, apa Hobby dan kecintaan anda? lakukanlah saat ini juga, siapa tahu bisa menjadikan anda skses seperti Tiger Wood, Bill Gates, dan BJ Habibie.
3.Hidup Anda akan semakin bermakna bila apa yang Anda pikirkan, ucapkan dan lakukan itu seirama. (Jamil Azzaini)
Penjelasan:
Orang-orang yang pikiran, ucapan dan apa yang dilakukan tidak sejalan biasanya orang itu integritasnya rendah. Bila Anda sering mengatakan sesuatu yang tidak Anda lakukan maka kepercayaan orang kepada Anda akan menurun. Bila apa yang kita katakana dan lakukan tidak sejalan dengan kita, maka kita berlatih menjadi orang munafik. Hidup Anda tidak akan nikmat.
Penjelasan:
Bila Anda sibuk mengejar uang maka Anda akan diperbudak oleh uang, namun bila Anda sibuk mencari ide, peluang kemudian Anda realisasikan dalam suatu kegiatan di dukung mitra kerja yang hebat maka uang akan mengejar Anda. Percayalah!
2. Hidup yang paling nikmat adalah Anda mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi Anda kemudian dibayar mahal (Jamil Azzaini)
Penjelasan:
Tiger Wood mencintai golf, hobinya bermain golf setelah itu mendapat bayaran mahal. Bill Gates mencintai dan hobi dengan komputer dan ia mendapat bayaran mahal bahkan menjadi orang terkaya di dunia. BJ Habibie mencintai dan hobi dengan segala hal yang berhubungan dengan pesawat terbang dan ia mendapat bayaran (royalti) mahal dari berbagai perusahaan pesawat terbang. Jadi, apa Hobby dan kecintaan anda? lakukanlah saat ini juga, siapa tahu bisa menjadikan anda skses seperti Tiger Wood, Bill Gates, dan BJ Habibie.
3.Hidup Anda akan semakin bermakna bila apa yang Anda pikirkan, ucapkan dan lakukan itu seirama. (Jamil Azzaini)
Penjelasan:
Orang-orang yang pikiran, ucapan dan apa yang dilakukan tidak sejalan biasanya orang itu integritasnya rendah. Bila Anda sering mengatakan sesuatu yang tidak Anda lakukan maka kepercayaan orang kepada Anda akan menurun. Bila apa yang kita katakana dan lakukan tidak sejalan dengan kita, maka kita berlatih menjadi orang munafik. Hidup Anda tidak akan nikmat.
Seputar Cinta
1. Cinta kepada manusia itu memberi. Cinta kepada Sang Pencipta itu meminta (Jamil Azzaini)
Penjelasan: Bila Anda mengaku mencintai seseorang, tanyakanlah dalam diri Anda, “Sudah berapa banyak yg telah aku berikan bukan seberapa banyak apa yg telah saya dapatkan?” Semakin banyak yang Anda beri dalam bentuk yang terlihat maupun yang tak terlihat semakin tinggi kadar cinta Anda kepada sesama manusia. Dan jangan Anda mengaku sangat mencintai seseorang bila Anda hanya sedikit memberi.
Sedangkan cinta kepada Sang Pencipta bukan dilihat dari seberapa besar kita memberi, karena Dia tak memerlukan apapun dari kita. Semakin kita mencintai-Nya seharusnya kita semakin banyak meminta (berdoa). Jangan pernah Anda mengaku mencintai-Nya tanpa pernah Anda berdoa. Allah, Sang Pencipta juga berbeda dengan manusia, semakin banyak diminta Dia akan semakin suka. Sungguh menyesatkan pernyataan, “Malu ah berdoa karena hidupku berlumur dosa.” Seharusnya semakin banyak dosa semakin banya meminta kepada-Nya.
2. Jika seseorang sedang jatuh cinta, apapun yang disentuhnya akan jadi puisi (Plato).
Penjelasan: Orang yang sedang jatuh cinta selalu berupaya untuk tidak membuat luka orang yang dicintai. Setiap kata dan tindakannya begitu indah dan mempesona. Bohong Anda mengaku mencintai seseorang namun kata-kata dan tindakan Anda kepadanya sering membuat luka. Kita boleh meragukan cinta seseorang apabila kata-kata yang menyakitkan sering terlontar, apalagi bila nama-nama penghuni kebun binatangpun sering keluar dari mulutnya…
Anda benar-benar jatuh cinta ketika kata-kata Anda membuat bahagia. Tindakan Anda membuat mereka terlindungi, aman dan mereka begitu senang bila Anda berada di dekatnya..
Silahkan dishare tulisan ini bila menurut Anda manfaat.
sumber : http://www.jamilazzaini.com/973/
Penjelasan: Bila Anda mengaku mencintai seseorang, tanyakanlah dalam diri Anda, “Sudah berapa banyak yg telah aku berikan bukan seberapa banyak apa yg telah saya dapatkan?” Semakin banyak yang Anda beri dalam bentuk yang terlihat maupun yang tak terlihat semakin tinggi kadar cinta Anda kepada sesama manusia. Dan jangan Anda mengaku sangat mencintai seseorang bila Anda hanya sedikit memberi.
Sedangkan cinta kepada Sang Pencipta bukan dilihat dari seberapa besar kita memberi, karena Dia tak memerlukan apapun dari kita. Semakin kita mencintai-Nya seharusnya kita semakin banyak meminta (berdoa). Jangan pernah Anda mengaku mencintai-Nya tanpa pernah Anda berdoa. Allah, Sang Pencipta juga berbeda dengan manusia, semakin banyak diminta Dia akan semakin suka. Sungguh menyesatkan pernyataan, “Malu ah berdoa karena hidupku berlumur dosa.” Seharusnya semakin banyak dosa semakin banya meminta kepada-Nya.
2. Jika seseorang sedang jatuh cinta, apapun yang disentuhnya akan jadi puisi (Plato).
Penjelasan: Orang yang sedang jatuh cinta selalu berupaya untuk tidak membuat luka orang yang dicintai. Setiap kata dan tindakannya begitu indah dan mempesona. Bohong Anda mengaku mencintai seseorang namun kata-kata dan tindakan Anda kepadanya sering membuat luka. Kita boleh meragukan cinta seseorang apabila kata-kata yang menyakitkan sering terlontar, apalagi bila nama-nama penghuni kebun binatangpun sering keluar dari mulutnya…
Anda benar-benar jatuh cinta ketika kata-kata Anda membuat bahagia. Tindakan Anda membuat mereka terlindungi, aman dan mereka begitu senang bila Anda berada di dekatnya..
Silahkan dishare tulisan ini bila menurut Anda manfaat.
sumber : http://www.jamilazzaini.com/973/
Hidup Harus Bertumbuh
1. Hidup bukan hanya sekadar bertahan hidup sebab ketika kita hidup tidak bertumbuh pada hakekatnya kita sudah mati (Jamil Azzaini)
Penjelasan:
Salah satu nasihat yang pernah terlontar dari seorang guru besar, “jangan sampai hidupmu seperti zombie (mayat hidup) berdasi. Artinya, pertama kamu hanya melakukan pekerjaan rutin tanpa ada kreativitas dan peningkatan hidup sedikitpun. Kedua, ketika ada tantangan baru, kamu menghindar dan tak mau belajar. Ketiga, zombie berdasi juga bekerja hanya untuk keperluan dirinya sendiri, tak ada yang diinvestasikan, tak ada yang dibagikan. Ketika tiga hal itu terjadi padamu, mati lebih terhormat bagi kamu”
2. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin celakalah Ia. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin rugilah ia. Dan Barangsiapa yang hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin dialah yang beruntung. (Hadits)
Penjelasan:
Setiap hari kita harus tumbuh jauh lebih baik agar kita tidak termasuk orang yang celaka dan rugi. Bila Anda berupaya meningkatkan kualitas hidup 1% tiap hari, maka selama setahun setidaknya Anda telah bertumbuh 365%. Dengan kata lain, kehidupan Anda meningkat hampir 4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Coba renungkan sejenak, apakah kehidupan Anda stagnan atau bertumbuh?
3. Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama (Albert Eisntein)
Penjelasan:
Apakah kehidupan Anda tahun ini ingin lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya? Bila jawabannya “ya”, apa cara berbeda yang sudah Anda lakukan?. Hidup tidak akan terus bertumbuh jika anda tidak mengubah cara hidup anda dari tahun ke tahun. ibaratnya anda masih menggunakan pager untuk berkomunikasi di jaman android seperti sekarang ini.bagaimana bisa berkembang kualitas anda jika cara-cara yang sudah tidak efektif masih anda terapkan?. jadi siapkah anda untuk melakukan perubahan?
Penjelasan:
Salah satu nasihat yang pernah terlontar dari seorang guru besar, “jangan sampai hidupmu seperti zombie (mayat hidup) berdasi. Artinya, pertama kamu hanya melakukan pekerjaan rutin tanpa ada kreativitas dan peningkatan hidup sedikitpun. Kedua, ketika ada tantangan baru, kamu menghindar dan tak mau belajar. Ketiga, zombie berdasi juga bekerja hanya untuk keperluan dirinya sendiri, tak ada yang diinvestasikan, tak ada yang dibagikan. Ketika tiga hal itu terjadi padamu, mati lebih terhormat bagi kamu”
2. Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin celakalah Ia. Barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin rugilah ia. Dan Barangsiapa yang hari ini lebih baik dibandingkan hari kemarin dialah yang beruntung. (Hadits)
Penjelasan:
Setiap hari kita harus tumbuh jauh lebih baik agar kita tidak termasuk orang yang celaka dan rugi. Bila Anda berupaya meningkatkan kualitas hidup 1% tiap hari, maka selama setahun setidaknya Anda telah bertumbuh 365%. Dengan kata lain, kehidupan Anda meningkat hampir 4 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Coba renungkan sejenak, apakah kehidupan Anda stagnan atau bertumbuh?
3. Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil yang berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama (Albert Eisntein)
Penjelasan:
Apakah kehidupan Anda tahun ini ingin lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya? Bila jawabannya “ya”, apa cara berbeda yang sudah Anda lakukan?. Hidup tidak akan terus bertumbuh jika anda tidak mengubah cara hidup anda dari tahun ke tahun. ibaratnya anda masih menggunakan pager untuk berkomunikasi di jaman android seperti sekarang ini.bagaimana bisa berkembang kualitas anda jika cara-cara yang sudah tidak efektif masih anda terapkan?. jadi siapkah anda untuk melakukan perubahan?
Selasa, 03 Januari 2012
Jangan Menolong Setengah Hati
Bantuan kecil yang Anda berikan mungkin tidak hanya membantu orang yang Anda tolong, tetapi juga lingkungan di sekitarnya.
Kebiasaan baik, seperti berbagi dan menolong orang lain, perlu dimulai dan dijalani dengan tekad kuat. Dengan begitu, saat Anda membantu orang lain, Anda melakukannya dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah. Setiap orang bisa belajar untuk memiliki kemampuan menjalani kebiasaan berbagi. Pelajaran pertamanya adalah memahami mengapa Anda mau berbagi dan menolong orang lain. Dengan begitu, Anda akan merasakan manfaat dan keajaiban karena terbiasa berbagi dan menolong orang lain.
“Prinsip berbagi bagi saya adalah ketika melihat seseorang yang membutuhkan, saya merasa harus memberi dari apa yang tidak saya pakai, memberi apa yang saya sukai, apa yang berguna, dan apa yang terbaik sehingga orang lain bisa merasakan manfaat yang sama dengan saya. Berbagi bukan memberikan yang tersisa, tetapi memberikan yang terbaik,”papar Non Rawung (63), Ketua Yayasan Obor Berkat Indonesia, dalam acara bincang-bincang “Habit of Giving = Determination to Start + Consistency” yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania di KidZania Jakarta, Kamis (20/1/2011).
Non, ibu dua anak yang mengabdikan dirinya sebagai pekerja sosial selama 11 tahun, memberikan contoh. Baginya, menolong bukan sekadar berbagi barang sisa yang seharusnya sudah masuk tempat sampah.
“Menolong harus dibarengi keinginan menjadi sahabat bagi orang yang diberi bantuan. Menghargai orang yang dibantu sebagai individu yang berhak hidup, mendapat kesempatan belajar, hak dikasihi, dan mendapat yang terbaik. Menolong tak mengharapkan terima kasih, tetapi justru mendapat kehormatan karena bisa menolong orang lain. Kesenangan dari dalam diri harus ditanamkan sehingga menolong tidak lagi menjadi beban, tetapi sebuah kehormatan,” kata Non. Ia menggambarkan konsistensi dirinya yang berhasil menjangkau lebih dari 4.000 daerah di Indonesia untuk memberikan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana.
Menolong juga butuh ketegasan
Sasaran yang ingin Anda tolong tidak menjadi soal. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah memastikan orang yang dibantu mendapatkan manfaat dan kebaikan secara maksimal. Jika saat ini Anda ingin sekali membantu tetangga yang anaknya kesulitan melanjutkan sekolah, segeralah mulai niat baik tersebut. Namun, sebaiknya bukan sekadar memberikan biaya sekolah setiap bulan, kata Non.
“Saat memberikan bantuan biaya sekolah, sebaiknya datang langsung ke sekolah anak. Kontrol prestasinya, dekati orangtuanya, minta agar orangtua juga mengawasi anak dalam belajar. Orangtua juga perlu tahu perkembangan anaknya. Banyak orang yang perlu bantuan, tapi jika bantuan yang diberikan tidak bermanfaat maksimal, masih banyak orang lain yang lebih layak dibantu,” tuturnya.
Membantu orang lain juga perlu melihat kebutuhannya, tentu dengan menyesuaikan kemampuan Anda. Menolong dengan sepenuh hati membantu seseorang untuk menjaga konsistensi kebiasaan berbagi. Sebab, dengan begitu, Anda bukan hanya melakukannya untuk membangun citra diri, melainkan juga menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
Bantuan Anda mengubah satu orang, bahkan lingkungan
Tindakan sederhana, menjadi orang tua asuh misalnya, tidak hanya bermanfaat bagi anak yang dibantu sekolahnya, tetapi juga bisa membawa perubahan besar di sekitar Anda. Salah satu perubahan yang paling sering dirasakan Non adalah perubahan sikap, baik sikap anak maupun orangtuanya.
“Mengajak anak dari kalangan tak mampu pergi ke mal bisa meningkatkan kepercayaan diri anak karena mereka merasa punya kesempatan yang sama dengan orang lain yang biasa dilihatnya di televisi atau orang mampu di sekitarnya. Anak yang bersekolah lebih punya sopan santun dan
berubah daripada anak yang tak sekolah. Orangtua melihat perubahan ini. Mereka pun terdorong untuk lebih memedulikan anaknya agar juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk dibantu bersekolah,” Non menjelaskan.
Menurut Non, saat Anda memutuskan membantu seorang anak untuk bersekolah, misalnya, Anda tengah membuat perubahan perilaku individu, masyarakat, bahkan lingkungan.
“Saya meyakini, ketika kita menabur sesuatu, suatu hari akan menjadi pohon besar tanpa tahu apakah nanti pohon ini akan menjadi pelindung bagi anak atau cucu saya,” katanya.
KOMPAS.com
Kebiasaan baik, seperti berbagi dan menolong orang lain, perlu dimulai dan dijalani dengan tekad kuat. Dengan begitu, saat Anda membantu orang lain, Anda melakukannya dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah. Setiap orang bisa belajar untuk memiliki kemampuan menjalani kebiasaan berbagi. Pelajaran pertamanya adalah memahami mengapa Anda mau berbagi dan menolong orang lain. Dengan begitu, Anda akan merasakan manfaat dan keajaiban karena terbiasa berbagi dan menolong orang lain.
“Prinsip berbagi bagi saya adalah ketika melihat seseorang yang membutuhkan, saya merasa harus memberi dari apa yang tidak saya pakai, memberi apa yang saya sukai, apa yang berguna, dan apa yang terbaik sehingga orang lain bisa merasakan manfaat yang sama dengan saya. Berbagi bukan memberikan yang tersisa, tetapi memberikan yang terbaik,”papar Non Rawung (63), Ketua Yayasan Obor Berkat Indonesia, dalam acara bincang-bincang “Habit of Giving = Determination to Start + Consistency” yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania di KidZania Jakarta, Kamis (20/1/2011).
Non, ibu dua anak yang mengabdikan dirinya sebagai pekerja sosial selama 11 tahun, memberikan contoh. Baginya, menolong bukan sekadar berbagi barang sisa yang seharusnya sudah masuk tempat sampah.
“Menolong harus dibarengi keinginan menjadi sahabat bagi orang yang diberi bantuan. Menghargai orang yang dibantu sebagai individu yang berhak hidup, mendapat kesempatan belajar, hak dikasihi, dan mendapat yang terbaik. Menolong tak mengharapkan terima kasih, tetapi justru mendapat kehormatan karena bisa menolong orang lain. Kesenangan dari dalam diri harus ditanamkan sehingga menolong tidak lagi menjadi beban, tetapi sebuah kehormatan,” kata Non. Ia menggambarkan konsistensi dirinya yang berhasil menjangkau lebih dari 4.000 daerah di Indonesia untuk memberikan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana.
Menolong juga butuh ketegasan
Sasaran yang ingin Anda tolong tidak menjadi soal. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah memastikan orang yang dibantu mendapatkan manfaat dan kebaikan secara maksimal. Jika saat ini Anda ingin sekali membantu tetangga yang anaknya kesulitan melanjutkan sekolah, segeralah mulai niat baik tersebut. Namun, sebaiknya bukan sekadar memberikan biaya sekolah setiap bulan, kata Non.
“Saat memberikan bantuan biaya sekolah, sebaiknya datang langsung ke sekolah anak. Kontrol prestasinya, dekati orangtuanya, minta agar orangtua juga mengawasi anak dalam belajar. Orangtua juga perlu tahu perkembangan anaknya. Banyak orang yang perlu bantuan, tapi jika bantuan yang diberikan tidak bermanfaat maksimal, masih banyak orang lain yang lebih layak dibantu,” tuturnya.
Membantu orang lain juga perlu melihat kebutuhannya, tentu dengan menyesuaikan kemampuan Anda. Menolong dengan sepenuh hati membantu seseorang untuk menjaga konsistensi kebiasaan berbagi. Sebab, dengan begitu, Anda bukan hanya melakukannya untuk membangun citra diri, melainkan juga menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
Bantuan Anda mengubah satu orang, bahkan lingkungan
Tindakan sederhana, menjadi orang tua asuh misalnya, tidak hanya bermanfaat bagi anak yang dibantu sekolahnya, tetapi juga bisa membawa perubahan besar di sekitar Anda. Salah satu perubahan yang paling sering dirasakan Non adalah perubahan sikap, baik sikap anak maupun orangtuanya.
“Mengajak anak dari kalangan tak mampu pergi ke mal bisa meningkatkan kepercayaan diri anak karena mereka merasa punya kesempatan yang sama dengan orang lain yang biasa dilihatnya di televisi atau orang mampu di sekitarnya. Anak yang bersekolah lebih punya sopan santun dan
berubah daripada anak yang tak sekolah. Orangtua melihat perubahan ini. Mereka pun terdorong untuk lebih memedulikan anaknya agar juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk dibantu bersekolah,” Non menjelaskan.
Menurut Non, saat Anda memutuskan membantu seorang anak untuk bersekolah, misalnya, Anda tengah membuat perubahan perilaku individu, masyarakat, bahkan lingkungan.
“Saya meyakini, ketika kita menabur sesuatu, suatu hari akan menjadi pohon besar tanpa tahu apakah nanti pohon ini akan menjadi pelindung bagi anak atau cucu saya,” katanya.
KOMPAS.com
Setan atau Malaikat
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-
Dari cerita diatas sangat terlihat signifikan bagaimana sikap individualisme dapat mengubah sikap seseorang untuk berbuat apa saja.
maka sangat tidak pantas kita sebagai manusia yang telah diberikan begitu banyak kecukupan oleh Tuhan masih mengeluh atas hal-hal sepele yang seharusnya menjadikan diri kita lebih baik. terus berbagi dan tetap menjaga hubungan antar umat manusia. sesungguhnya kesulitan yang kita hadapi akan membuat diri kita kuat, nukan sebaliknya.
regards
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?
Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:
“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.
Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-
Dari cerita diatas sangat terlihat signifikan bagaimana sikap individualisme dapat mengubah sikap seseorang untuk berbuat apa saja.
maka sangat tidak pantas kita sebagai manusia yang telah diberikan begitu banyak kecukupan oleh Tuhan masih mengeluh atas hal-hal sepele yang seharusnya menjadikan diri kita lebih baik. terus berbagi dan tetap menjaga hubungan antar umat manusia. sesungguhnya kesulitan yang kita hadapi akan membuat diri kita kuat, nukan sebaliknya.
regards
-khaika13-
Langganan:
Postingan (Atom)