Kata serapan adalah kata yang berasal dari bahasa lain (bahasa
daerah/bahasa luar negeri) yang kemudian ejaan, ucapan, dan tulisannya
disesuaikan dengan penuturan masyarakat Indonesia untuk memperkaya kosa kata.
Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk
mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke
benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang
dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi
keperluan itu, namun manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain,
sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar
budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu
cara memenuhi keperluan itu--yang sering dianggap lebih mudah--adalah mengambil
kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.
Telah berabad-abad lamanya nenek moyang penutur bahasa
Indonesia berhubungan dengan berbagai bangsa di dunia. Bahasa Sanskerta
tercatat terawal dibawa masuk ke Indonesia yakni sejak mula tarikh Masehi.
Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa sastra dan perantara dalam penyebaran agama
Hindu dan Buddha. Agama Hindu tersebar luas di pulau Jawa pada abad ke-7 dan
ke-8, lalu agama Buddha mengalami keadaan yang sama pada abad ke-8 dan ke-9.
Berdasarkan taraf integrasinya, kata serapan dalam bahasa
Indonesia dapat dibagi menjadi 2 golongan besar. Pertama, kata serapan yang
belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle
cock, long march, dan lain-lain. Kata-kata ini dipakai dalam konteks bahasa
Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, kata serapan
yang pengucapan dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya hanya diubah seperlunya sehingga bentuk
Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Bahasa yang paling banyak diserap kata-katanya, berdasarkan
referensi penulis, adalah bahasa Belanda yang mencapai 3.280 kata. Hal ini
terutama disebabkan lamanya masa penjajahan oleh bangsa Belanda yang mencapai
3,5 abad. Bahasa Belanda dipakai hingga masa pergerakan kemerdekaan dalam
komunikasi gagasan kenegaraan dan tentunya juga dipakai dalam kehidupan
sehari-hari. Contoh kata-kata yang diserap dari bahasa Belanda adalah advokat
(advocaat), brankas (brandkast), demokrasi (demokratie), eksemplar (exemplaar),
dan lain-lain.
Selain kata-kata serapan, ada sejumlah kata tidak mengalami
penyerapan, tetapi masih dipakai dalam bentuk percakapan lisan tidak dalam
bentuk tulisan. Contoh dari kata-kata tersebut adalah aanval (serangan
jantung), brandweer (pemadam kebakaran), verboden (dilarang), dan lain-lain.
Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula surut sehingga
kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda sumbernya tidak
disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang yang lebih dikenal adalah bahasa
Inggris.
Bahasa selanjutnya yang menempati peringkat kedua dalam
penyerapan kata-katanya adalah bahasa Inggris. Jumlah kata yang diserap dari
bahasa ini adalah sebanyak 1.610 kata. Contoh kata-kata yang diserap dari
bahasa Inggris adalah aktor (actor), aktris (actress), bisnis (business),
departemen (department), dan lain-lain. Seperti telah disebutkan sebelumnya,
banyak kata termasuk dari bahasa Inggris yang belum sepenuhnya diserap sehingga
pemakaiannya masih dalam bentuk aslinya. Bahasa Inggris merupakan bahasa
internasional dan dipakai secara luas di negeri ini hingga masa yang akan
datang. Hal tersebut memungkinkan penyerapan kata yang lebih banyak lagi dari
saat ini.
Di antara bahasa-bahasa yang dipakai sebagai serapan, ada
beberapa yang tidak lagi menjadi sumber penyerapan kata baru yaitu bahasa
Tamil, Parsi, Hindi, dan Portugis. Kedudukan mereka telah tergeser oleh bahasa
Inggris yang penggunaannya lebih mendunia. Walaupun begitu, bukan bererti hanya
bahasa Inggris yang menjadi rujukan penyerapan bahasa Indonesia pada masa yang
akan datang.
Penyerapan kata dari bahasa Cina sampai sekarang masih
terjadi di bidang pariboga termasuk bahasa Jepang yang agaknya juga potensial
menjadi sumber penyerapan.
Di antara penutur bahasa Indonesia beranggapan bahwa bahasa
Sanskerta yang sudah ’mati’ itu merupakan sesuatu yang bernilai tinggi dan
klasik. Alasan itulah yang menjadi pendorong penghidupan kembali bahasa
tersebut. Kata-kata Sanskerta sering diserap dari sumber yang tidak langsung,
yaitu Jawa Kuna. Sistem morfologi bahasa Jawa Kuna lebih dekat kepada bahasa
Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa Kuna misalnya
acara, bahtera, cakrawala, darma, gapura, jaksa, kerja, lambat, menteri,
perkasa, sangsi, tatkala, dan wanita.
Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan, terutama dalam
bidang agama Islam. Kata rela (senang hati) dan korban (yang menderita akibat
suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke dalam bahasa
Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran makna,
masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (perkenan) dan kurban
(persembahan kepada Tuhan). Dua kata terakhir berkaitan dengan konsep
keagamaan. Ia umumnya dipelihara betul sehingga makna (kadang-kadang juga
bentuknya) cenderung tidak mengalami perubahan.
Sebelum Ch. A. van Ophuijsen menerbitkan sistem ejaan untuk
bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis tidak menjadi pertimbangan
penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan disesuaikan pada lafalnya saja.
Meski kontak budaya dengan penutur bahasa-bahasa itu
berkesan silih berganti, proses penyerapan itu ada kalanya pada kurun waktu
yang tmpang tindih sehingga orang-orang dapat mengenali suatu kata serapan
berasal dari bahasa yang mereka kenal saja, misalnya pompa dan kapten sebagai
serapan dari bahasa Portugis, Belanda, atau Inggris. Kata alkohol yang sebenar
asalnya dari bahasa Arab, tetapi sebagian besar orang agaknya mengenal kata itu
berasal dari bahasa Belanda.
Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam kosa kata
Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, namun ada juga
kata-kata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke
dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di Indonesia
antara masa kolonialisme Belanda.. Kata-kata itu seperti kalar, sepanar, dan
wesket. Juga badminton, kiper, gol, bridge.
Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula
surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda
sumbernya tidak disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang yang lebih
dikenal adalah bahasa Inggris.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka. Maksudnya ialah
bahwa bahasa ini banyak menyerap kata-kata dari bahasa lainnya.
Arab :1.495
kata
Belanda :3.280
kata
Tionghoa :290
kata
Hindi :7
kata
Inggris :1.610
kata
Parsi :63
kata
Portugis :131
kata
Sanskerta-Jawa Kuna :677
kata
Tamil :83
kata
Sumber: Senarai Kata Serapan dalam Bahasa Indonesia (1996)
yang disusun oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (sekarang bernama
Pusat Bahasa).
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/12/pengaruh-bahasa-asing-dalam-perkembangan-bahasa-indonesia-4/
wikipedia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.