Selama abad petengahan (abad 5-15) ahli Injil mendominasi
pemikiran Eropa. Para pemikir Eropa masih berkutat pada pencarian hakikat
manusia, yakni sekitar pertanyaan asal manusia dan perkembangan cultural.
Mereka menjawab pertanyaan ini dengan jawaban masalah kepercayaan religious dan
mengajukan ide bahwa keberadaan manusia dan semua peradaban manusia adalah
ciptaan Tuhan. Jawaban tersebut sangat teologis meskipun sudah ada keterbukaan
berpikir dibandingkan dengan masa gelap Eropa.
Sebagaimana
diketahui pemikir teologi Gereja mendominasi Eropa abad gelap. Sisi lain yang
mempengaruhi pemikir eropa adalah buah eksplorasi mereka ke dunia Timur. Mulai
abad 14, penjelajah Eropa mencari kekayaan di tanah baru yang memberikan gambaran
tentang kebudayaan eksotis yang mereka temui pada perjalanan mereka di Asia,
Afrika dan Amerika. Tetapi penjelajah-penjelajah ini tidak memahami
bahasa-bahasa di mana mereka datang dan mereka membuat penelitian singkat san
sistematis.
Pada
abad 14 Ibn Kaldun menulis sejarah universal yang mengungkapkan secara luar
biasa mengenai kemampuan pembelajaran dan kemampuan yang tidak biasa dari Ibn
Khaldun yang menyusun teori umum untuk perhitungan perkembangan politik dan
social selama berabad-abad. Dia adalah seorang sejarawan muslim satu-satunya
yang menyarankan alasan social dan ekonomi bagi perubahan sejarah. Ibn Khaldun
mengangkat rasionalitas untuk menganalisa fenomena sosial. Sikap tersebut
selanjutnya diaplikasikan dalam menginterpretasi sejarah.
Biografi
Singkat Ibn Khaldun
Ibn
Khaldun merupakan pemikir dari dunia Arab, di saat dunia Arab mengalami
kemandegan. Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibn
Khaldun, seorang sajarawan besar Islam pada abad pertengahan. Ibn Khaldun
dilahirkan pada 27 Mei 1332 (1 Ramadhan 732 H) di Tunis.[1]
Keluarga
Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih memiliki keturunan dengan Wail Bin
hajar, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Ibn Khaldun yang terlahir dari
keluarga Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan intelektual dan
politik.
Ibn
Khaldun wafat pada tanggal 26 Ramadhan 808 H (16 Maret 1406M), tak lama stelah
ditunjuk keenam kalinya sebagai hakim. Dia dikebumikan di kawasan pemakaman
orang sufi di Kairo.
Posisi Sejarah
dalam Pemikiran Ibn Khaldun
Untuk
mengetahui posisi sejarah dalam teori Ibn Khaldun, kita harus memahami dulu
definisi sejarah yang diberikannya. Ibn Khaldun melihat ada dua sisi dalam
bangunan sejarah, yakni sisi luar dan sisi dalam.[2]
Dari
sisi luar, sejarah itu tidak lebih dari rekaman perputaran kekuasaan pada masa
lampau.[3] Tapi jika ditilik secara mendalam, maka
sejarah adalah suatu penalaran kritis dan usaha yang cermat untuk mencari
kebenaran; suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab-sebab dan asal-usul
segala sesuatu; suatu pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana dan mengapa
peristiwa-peristiwa itu terjadi. Oleh karena itu sejarah berakar dalam filsafat
(hikmah), dan sejarah pantas dipandang menjadi bagian dari filsafat itu.
Dengan
mempertautkan sejarah kepada filsafat, Ibn Khaldun tampak juga mengatakan
sejarah memberikan inspiratif dan intuitif kepada filsafat, sedangkan filsafat
menawarkan kekuatan logic kepada sejarah. Maka dengan dibekali logika kritis
seorang sejarawan akan mampu menyaring dan mengkritik sumber-sumber sejarah,
tulisan maupun lisan, sebelum ia sampai kepada proses penyajian final dari
penyelidikannya.[4]
Muqaddimah
Hampir
semua kerangka konsep pemikiran Ibnu Khaldun tertuang dalam al-muqadddimah. Di
al-muqaddimah tersebut, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah catatan
tentang masyarakat manusia atau perdaban dunia, tentang perubahan-perubahan
yang terjadi, perihal watak manusia, seperti keliaran, keramah-tamahan,
solidaritas golongan, tentang revolusi, dan pemberontakan-pemberontakan suatu
kelompok kepada kepada kelompok lain yang berakibat pada munculnya
kerajaan-kerajaan dan negara-negara dengan tingkat yang bermacam-macam, tentang
pelbagai kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup
maupun kegiatan mereka dalam ilmu pengetahuan dan industri, serta segala
perubahan yang terjadi di masyarakat.
Khaldun
bahkan memerinci bahwa ekonomi, alam, dan agama merupakan faktor yang
memengaruhi perkembangan sejarah. Meski punya pengaruh, faktor ekonomi, alam
dan agama bagi Khaldun bukan satu-satunya faktor yang menentukan gerak sejarah.
Ilmu lain inilah yang diistilahkan Ibn Khaldun sebagai kultur.
Ilmu
kultur bertugas mencari pengertian tentang sebab-sebab yang mendorong manusia
bertindak, disamping melacak pemahaman tentang akibat-akibat dari tindakan itu,
yaitu seperti tercermin dalam peristiwa-peristiwa sejarah. Tujuan terakhir yang
hendak diraih dengan bantuan ilmu kultur dalam peristiwa sejarah adalah ialah
aktualisasi kebahagiaan dan kebaikan bersama melalui tindakan dan kebijkan
politik.
Teori
siklus gerak sejarah sebagaimana yang dia pikirkan didasarkan pada adanya
kesamaan sebagian masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Teori ini
sebenarnya merupakan tafsir atas pemikiran Khladun, Khladun sendiri sebenarnya
tidak menyampaikannya secara eksplisit. Satu hal yang disampaikan Khaldun
secara eksplisit adalah pemikirannya tentang sejarah kritis.
Hal ini
sejalan dengan pengertian Sejarah Universal (atau dunia) yang menginginkan
pemahaman atas keseluruhan pengalaman kehidupan masa lampau manusia secara
total untuk melihatnya pesan-pesan perbedaan pada pesan yang berguna bagi masa
depan.
Dua
masalah yang mendominasi penulisan sejarah universal, pertama ketersediaan
kuantitas bahan dan keberagaman bahasa di mana di dalamnya tertulis
mengimplikasikan bahwa sejarah universal mengambil bentuk kerja kolektif atau
menjadi sejarah tangan kedua. Kedua, prinsip dari seleksi yang dihubungkan
dengan pemilihan studi untuk membentuk taksonomi sejarah yang sesuai. Unit-unit
tersebut secara geografis (misal benua), periode, tahap perkembangan atau
struktur, peristiwa penting, saling berhubungan (misalnya komunikasi, perjuangan
bagi kekuatan dunia, atau perkembangan sistem ekonomi dunia), peradaban atau
kebudayaan, kekaisaran dan negara bangsa, atau komunitas terpilih. Sejarah
universal telah ditulis terutama oleh sejarawan Barat atau sejarawan dari Asia
Barat termasuk Ibnu Khaldun.[5]
Di
al-muqaddimah, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah catatan tentang
masyarakat manusia atau perdaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi,
perihal watak manusia, seperti keliaran, keramahtamahan, solidaritas golongan,
tentang revolusi, dan pemberontakan-pemberontakan suatu kelompok kepada kepada
kelompok lain yang berakibat pada munculnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara
dengan tingkat yang bermacam-macam, tentang pelbagai kegiatan dan kedudukan
orang, baik untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun kegiatan mereka dalam ilmu
pengetahuan dan industri, serta segala perubahan yang terjadi di masyarakat.
Sumber :
[1]
Fuad Baali dan Ali Wardi. 1989. Ibn Khaldun dan Pola Pemikiran Islam.
Jakarta: Pustaka Firdaus. hlm. 9.
[2]
Lembaga Studi Islam dan Pengembangan Masyarakat. Kontribusi Pemikiran Ibn
Khaldun. Yogyakarta: LSIPM. hlm. 13.
[4] Ibid.
hlm. 14
[5]
Lembaga Studi Islam dan Pengembangan Masyarakat. op.cit. hlm. 19.
http://filsafat.kompasiana.com/2012/05/28/pemikiran-ibn-khaldun/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.