Flying Cute Baby Blue Butterfly khaika13: Kuldesak
tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau mencoba, berusaha, dan berdoa
:)

Senin, 21 November 2011

Kuldesak

kecewa ini tak pantas ku bawa
entah pada siapa atau pada apa harus ku timpakannya
kecewaku kini tak bermuara
tak sanggup lagi mengadu luka, bahkan limpahan rasa
dalam air mata
Tuhan, perkenankan aku mati tuk sementara

(Au Rasinai - Kuldesak)

mungkin sebagian dari kita pernah mendengar kata KULDESAK.
tapi, apakah kalian tahu apa sebenarnya arti dari kata KULDESAK?
dikutip dari Wikipedia, KULDESAK berarti sebuah kata serapan yang berasal dari frase Bahasa Katalan cul-de-sac (harfiah: "dasar tas") yang mengacu pada "buntu" atau "jalan tertutup". Dalam Bahasa Indonesia, istilah "kuldesak" tidak banyak digunakan karena telah digantikan dengan istilah "jalan buntu". Walaupun pembuatan kuldesak secara historis dibangun untuk alasan lain, dalam penggunaan modern kuldesak dibangun untuk menenangkan lalu lintas kendaraan.

Dalam perencanaan kota, kuldesak diciptakan untuk membatasi arus lalu lintas di wilayah pemukiman. Beberapa kuldesak tidak memberikan jalan kecuali untuk pergi ke dalam dan ke luar, namun beberapa kuldesak memungkinkan sepeda , pejalan kaki atau non-otomotif lainnya untuk melewati jalan penghubung atau jalan setapak.
Dalam istilah perencanaan lalu lintas, istilah "cul-de-sac" mendefinisikan jalan lokal, terutama yang memiliki fungsi akses untuk properti atau residensi daripada fungsi transportasi untuk kendaraan.

Kata "cul-de-sac" dan variannya, "buntu" dan "tak ada jalan keluar", telah menginspirasi penggunaannya sebagai metafora dalam sastra dan budaya.
Meskipun seakan menjadi frase pinjaman dari Prancis, ekspresi "cul-de-sac" berasal dari Inggris selama periode ketika Bahasa Perancis dituturkan oleh para bangsawan Inggris. Dalam Bahasa Katalan atau Bahasa Occitan, "cul-de-sac" secara harafiah berarti "dasar tas".
secara metafora juga kuldesak berarti berhenti sejenak atau lupakan lalu kembali melanjutkan

namun pada tahun 1998 KULDESAK dijadikan sebuah film beransambel drama komedi hitam Indonesia. Segmen-segmen dalam film ini disutradarai antara lain oleh Riri Riza, Nan Achnas, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani, yang merupakan debut awal mereka di karier sutradara. Film ini dibintangi antara lain oleh Oppie Andaresta, Bianca Adinegoro, Ryan Hidayat, Wong Aksan, dan dibantu banyak bintang tamu yang notabene adalah aktor dan aktris Indonesia yang terkenal pada masanya, antara lain Sophia Latjuba, Bucek Depp, Unique Priscilla, dan Dik Doank.

Saat dirilis, film ini adalah hasil produksi kolektif dari para sineas muda, aktor, dan pemusik yang beroperasi di bawah nama Day For Night Films. Film yang diproduksi sejak tahun 1996 ini menggunakan unsur komedi hitam untuk menggambarkan kehidupan kota di Jakarta yang mencerminkan tragedi kesepian.

Film ini adalah film terakhir yang dibintangi Ryan Hidayat yang meninggal dunia setahun sebelum film ini dirilis. Film Kuldesak ditayangkan premier di lingkup internasional dalam International Film Festival di Rotterdam tahun 1999. Film ini mendapatkan nominasi untuk Silver Screen Award - Best Asian Feature Film (BI: Film Fitur Asia Terbaik) dalam Singapore International Film Festival tahun 1999.

Sinopsis

Kuldesak berfokus pada empat penduduk muda Jakarta pada 1990-an. Mereka semua punya mimpi, tapi kadang-kadang hidup memaksa mereka untuk membuat pilihan-pilihan radikal. Aksan (Wong Aksan) bermimpi untuk membuat sebuah film. Semua yang dia butuhkan adalah uang, namun ayahnya yang kaya tidak ingin anaknya menjadi seorang pembuat film. Aksan, yang tidak memiliki cukup dorongan untuk membuat impiannya menjadi kenyataan, memutuskan untuk mencuri dari ayahnya. Andre (Ryan Hidayat) adalah musisi tidak bahagia yang merasa teridentifikasi dengan idola rock Kurt Cobain, vokalis dan gitaris dari band Nirvana asal Amerika Serikat yang terkenal di dunia oleh bunuh dirinya. Dia mencari kenyamanan dari seorang peramal keliling. Dina (Oppie Andaresta) adalah seorang penjual tiket di bioskop yang terobsesi dengan pembawa acara TV yang populer. Dia tidak dapat lagi membedakan impian dari kenyataan. Lina (Bianca Adinegoro) bekerja untuk sebuah biro iklan di mana dia ditekan oleh bosnya untuk bekerja lembur. Suatu malam, dia diperkosa. Alih-alih melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, dia memutuskan untuk mengambil hukum di tangannya sendiri.

Penghargaan

Nominasi untuk Silver Screen Award - Best Asian Feature Film dalam Singapore International Film Festival tahun 1999

Soundtrack dari film ini diciptakan oleh Ahmad Dhani. berikut Video Klipnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.