Flying Cute Baby Blue Butterfly khaika13
tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau mencoba, berusaha, dan berdoa
:)

Senin, 22 November 2010

Prasangka, Diskriminasi, dan Etnosentrisme

Perbedaan Prasangka & Diskriminasi


 Sikap negatif terhadap sesuatu, disebut prasangka namun ada juga demikian belum jelas benar ciri-ciri kepribadian mana yang membuat seseorang mudah berprasangka;

 Dalam kondisi prasangka untuk menggapai akumulasi materi tertentu atau untuk status sosial bagi suatu individu atau suatu kelompok sosial tertentu;

 Seorang yang mempunyai prasangka rasial, biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkanya.


Sebab-sebab Timbulnya Prasangka

a. Berlatar belakang sejarah;
b. Dilatar belakangi oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional;
c. Bersumber dari faktor kepribadian;
d. Berlatar belakang dari perbedaan keyakinan dan agama.


Daya Upaya Untuk Mengurangi
Prasangka & Diskriminasi
A. Perbaikan kondisi sosial ekonomi, pemerataan pembangunan dan usaha peningkatan pendapatan bagi warga negara Indonesia yang masih tergolong di bawah garis kemiskinan;
B. Perluasan kesempatan belajar, adanya usaha-usaha pemerintah dalam perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warga negara Indonesia;
C. Sikap terbuka dan sikap lapang harus selalu kita sadari bahwa berbagai tantangan yang datang dari luar ataupun yang datang dari dalam negeri.


Etnosentrisme
 Suku bangsa ras tersebut cenderung menganggap kebudayaan mereka sebagai salah satu yang prima, riil, logis, sesuai kodrat alam dan sebagainya;

 Etnosentrisme nampaknya merupakan gejala sosial yang universal, misalnya: sikap yang demikian biasanya dilakukan secara tidak sadar;

 Akibatnya etnosentrisme penampilan yang etnosentrik, dapat menjadi penyebab utama kesalah pahaman dalam berkomunikasi;

 Etnosentrisme dapat dianggap sebagai sikap dasar Ideologi Chauvinisme pernah dianut orang-orang Jerman pada zaman Nazi Hitler, mereka merasa dirinya superior, lebih unggul dari bangsa-bangsa lain, dan menganggap bangsa-bangsa lain sebagai inferior, lebih rendah, nista dan sebagainya.

Agama dan Masyarakat

AGAMA DAN MASYARAKAT

1. Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan pengetahuan agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur para Nabi dalam mengubah kehidupan.
2. Pada usulannya agama yang diyakini merupakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosial
3. Ada dua kehidupan sosial menyangkut hal yang sudah tentu memiliki hubungan yang erat :

a. Pengaruh dari cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas sosial dan group sosial;

b. Perseorangan, kolektivitas dan mencakup kebiasaan dan cara semua unsur asing agama diwarnainya.

4. Yang mempunyai seperangkat arti mencakup perilaku sebagai pegangan individu (way of life) dengan kepercayaan dan taat kepada agamanya.
5. Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal-hal yang normatif atau menunjukkan kepada hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan

FUNGSI AGAMA


1. Dalam pengertian lembaga sosial yang demikian, maka agama merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang telah terlembaga;
2. Fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yaitu: kebudayaan, sistem sosial dan kepribadian;
3. Teori fungsional dalam melihat kebudayaan, pengertiannya adalah bahwa kebudayaan adalah wujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan.
4. Mempertahankan keseimbangan pribadi, fungsi kepribadian dalam hal ini merupakan suatu dorongan kebutuhan yang kompleks dan kecenderungan bertindak;
5. Aksioma teori fungsional agama adalah segala suatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya, karena agama sejak dulu sampai saat ini masalah fungsionalisme agama dapat dianalisa lebih mudah pada komitmen agama menurut Roland Robetson (1984), diklasifikasikan berupa: keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan dan konsekuensi.
6. Masyarakat industri bercirikan dinamika dan semakin berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian terhadap alam pisik;
7. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai konsekuensi penting bagi agama, salah satu akibatnya adalah anggota masyarakat;
8. Pada umumnya kecenderungan sekulerisasi mempersempit ruang gerak kepercayaan dan pengalaman keagamaan yang terbatas;
9. Agama yang menerima nilai-nilai institusional baru, melainkan agama yang bersifat aliran-aliran.

PELEMBAGAAN AGAMA

1. Agama begitu universal, permanen (langgeng) dan mengatur dalam kehidupan, sehingga bila memahami agama akan sukar memahami masyarakat;
2. Menurut perkataan (Elizabeth K. Notinghan, 1954), yaitu :
a. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sakral;
b. Masyarakat-masyarakat praindustri yang sedang berkembang;
3. NU, semula organisasi ini tidak mempunyai anggaran dasar (Tahun 1926), baru setelah Tahun 1927 organisasi ini dirumuskan;
4. Dari contoh sosial lembaga keagamaan berkembang pola ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan) dan tampil sebagai bentuk asosiasinya atau organisasinya