Flying Cute Baby Blue Butterfly khaika13: Oleh-oleh Dari Kota Dumai
tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau mencoba, berusaha, dan berdoa
:)

Minggu, 28 Oktober 2012

Oleh-oleh Dari Kota Dumai


Bentuknya hanya berupa irisan atau potongan tipis singkong, dengan cabai dan bumbu sederhana. Setelah diaduk bersama bumbu, irisan singkong digoreng dengan minyak panas. Setelah matang, diangkat, ditiriskan, dan didinginkan. Singkong yang siap santap kemudian dimasukkan ke kantong plastik, ditimbang dengan ukuran 400 gram, dan diberi cap “Mai Satun”.

Soal rasa, “kerupuk cabai” Mai Satun, demikian masyarakat Dumai menyebutnya, sudah dkenal enak. Rasanya berpadu antara pedas, manis, dan asin. Teksturnya renyah serta garing. Bentuknya nyaris tidak beraturankarena potongan bulat singkong yang tipis telah mengerut karena minyak panas. Kerupuk itu berbeda dari produk sejenis asal Sumatera Barat yang memiliki potongan yang lebih tebal dan memanjang.

Merek Mai Satun sudah menjadi ikon oleh-oleh dari kota Dumai, Riau. Wali Kota Dumai Khairul Anwar selalu menyajikan kerupuk cabai itu kepada tamunya. Karena lokasinya terletak di kota pelabuhan Internasional, di tengah pulau Sumatera, produk Mai Satun kerap menyebrangi Selat Malaka, sampai ke Malaysia dan Singapura, walapun dengan merek dagang berbeda.
“banyak pengusaha oleh-oleh di Dumai membeli kerupuk cabai saya dalam jumlah besar, dengan permintaan tidak memakai merek Mai satun. Ada juga dari Pekanbaru. Saya tahu, mereka akan menjual kembali dengan merek lain,” ujar Maisatun, pemilik usaha kerupuk cabai Dumai, November lalu.

Maisatun tidak peduli jika produknya dijual dengan merek apapun. Masalah paten bukan urusannya. Yang dia tahu adalah bagaimana mambuat kerupuk cabai tetap enak dan bertahan di pasar.

TIDAK SENGAJA
Perempuan kelahiran pacitan, Jawa Timur, 51 tahun lalu, itu memulai usaha secara tidak sengaja. Tahun 2001, dia masih berjualan lontong sayur untuk sarapan. Sebagai tambahan, dia bersama suaminya, Gunardi, dan anaknya, Susiani, membuat keripik singkong pedas atau kerupuk cabai. Kerupuk itu dibungkus dengan plastic ukuran kecil.

Kerupuk ternyata disukai warga sekitar. Permintaan kerupuk terus meningkat. Sebuah kedai kopi ternama di kota Dumai yang menyediakan sarapan juga mulai meminta produknya. Lama kelamaan kerupuk Maisatun beredar di seluruh kota Dumai.

Tahun 2006, setelah cukup sukses, Susiani (30) pindah rumah dan membuat produk sendiri. Susiani membuat merek dagang kerupuk cabai dengan nama Ika, nama anaknya. Maisatun membuat merek sendiri dengan nama Mai Satun.

Setiap hari, ibu yang tampil sederhana itu memerlukan 500 kilogram sampai 1 ton singkong. Singkong itu seluruhnya didapat dari sekitar kota Dumai. Petani di Dumai tidak sulit tidak sulit memasarkan singkong karena hasil panen sepenuhnya ditampung industry kerupuk cabai.tidak heran, lahan-lahan kosong di kota minyak itu banyak hamparan pohon singkong. Bahkan, di sepanjang jalan Sultan Syarif Kasim menuju Pelabuhan Lubuk Gaung ada areal pertanaman singkong yang cukup luas.

Camat Dumai Barat Jurianto mengatakan, banyak singkong ditanam petani di lahan kosong milik PT. Pertamina. Perjanjiannya, petani hanya memiliki hak meminjam. “Bulan Agustus, kami kekurangan bahan baku karena petani singkong di lahan Pertamina tidak menanam lagi. Ada isu, Pertamina mau memakai lahannya. Kami terpaksa mengambil singkong dari luar daerah,” kata Gunardi.
Usaha kerupuk cabai di Dumai sudah berkembang. Di kecamatan Dumai Barat saja, di sekitar rumah Maisatun, ada tiga merek dagang lain. Namun, produk Mai satun tetap unggul. Maisatun mempekerjakan 15 orang yang semuanya ibu-ibu tetangganya.

Produknya terus berkembang. Pasang surut pun dialaminya. Pernah muncul isu negatif soal cara pembuatan kerupuknya dan bahan bumbu yang dipakainya. Produksinya sempat menurun, tetapi dia tetap bertahan. Dia mengaku hanya memakai bahan-bahan alami biasa yang tersedia di pasar sebagai bumbu kerupuk cabainya.

Sejak tahun 2005, kerupuk cabai Maisatun dibuat dalam versi untuk oleh-oleh. Bungkusannya lebih rapi dengan plastic yang cukup tebal, tetapi masih dibilang sederhana. Plastik pembungkus kerupuk hanya direkatkan dengan alat pemanas dan diberi label. Produk dipajang di lemari kayu tanpa sekat di ruang tamu rumahnya.

Setiap hari pembeli eceran sampai pembeli pasar besar silih berganti datang kerumahnya. Seorang pembeli dari Bagan Batu, Kabupaten Rokan Hilir, sempat ditemui tengah mengambil pesanan.
“Bapak itu mengambil kerupuk dua kali sebulan, masing-masing 250 kilogram,” ujar Maisatun yang ikut turun tangan mengupas singkong, meracik bumbu, menggoreng, atau membungkus kerupuk cabainya.

Saat ini, produknya tidak hanya kerupuk cabai. Maisatun juga menambah produk rempeyek kacang, keripik pisang, dan kue kembang Loyang.
Di toko oleh-oleh di Kota Dumai, produk kerupuk cabai Maisatun selalu tersedia. Pengusaha toko membeli produk Maisatun, dibungkus ulang dengan merek dagang sendiri, dan dijual lagi dengan harga lebih mahal.

sumber : Koran KOMPAS edisi Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.