Flying Cute Baby Blue Butterfly khaika13
tidak ada yang tidak mungkin selama kita masih mau mencoba, berusaha, dan berdoa
:)

Selasa, 03 Januari 2012

Jangan Menolong Setengah Hati

Bantuan kecil yang Anda berikan mungkin tidak hanya membantu orang yang Anda tolong, tetapi juga lingkungan di sekitarnya.

Kebiasaan baik, seperti berbagi dan menolong orang lain, perlu dimulai dan dijalani dengan tekad kuat. Dengan begitu, saat Anda membantu orang lain, Anda melakukannya dengan sepenuh hati dan tidak setengah-setengah. Setiap orang bisa belajar untuk memiliki kemampuan menjalani kebiasaan berbagi. Pelajaran pertamanya adalah memahami mengapa Anda mau berbagi dan menolong orang lain. Dengan begitu, Anda akan merasakan manfaat dan keajaiban karena terbiasa berbagi dan menolong orang lain.

“Prinsip berbagi bagi saya adalah ketika melihat seseorang yang membutuhkan, saya merasa harus memberi dari apa yang tidak saya pakai, memberi apa yang saya sukai, apa yang berguna, dan apa yang terbaik sehingga orang lain bisa merasakan manfaat yang sama dengan saya. Berbagi bukan memberikan yang tersisa, tetapi memberikan yang terbaik,”papar Non Rawung (63), Ketua Yayasan Obor Berkat Indonesia, dalam acara bincang-bincang “Habit of Giving = Determination to Start + Consistency” yang diadakan oleh Tango bekerja sama dengan KidZania di KidZania Jakarta, Kamis (20/1/2011).

Non, ibu dua anak yang mengabdikan dirinya sebagai pekerja sosial selama 11 tahun, memberikan contoh. Baginya, menolong bukan sekadar berbagi barang sisa yang seharusnya sudah masuk tempat sampah.

“Menolong harus dibarengi keinginan menjadi sahabat bagi orang yang diberi bantuan. Menghargai orang yang dibantu sebagai individu yang berhak hidup, mendapat kesempatan belajar, hak dikasihi, dan mendapat yang terbaik. Menolong tak mengharapkan terima kasih, tetapi justru mendapat kehormatan karena bisa menolong orang lain. Kesenangan dari dalam diri harus ditanamkan sehingga menolong tidak lagi menjadi beban, tetapi sebuah kehormatan,” kata Non. Ia menggambarkan konsistensi dirinya yang berhasil menjangkau lebih dari 4.000 daerah di Indonesia untuk memberikan akses pelayanan kesehatan, pendidikan, dan penanggulangan bencana.

Menolong juga butuh ketegasan
Sasaran yang ingin Anda tolong tidak menjadi soal. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah memastikan orang yang dibantu mendapatkan manfaat dan kebaikan secara maksimal. Jika saat ini Anda ingin sekali membantu tetangga yang anaknya kesulitan melanjutkan sekolah, segeralah mulai niat baik tersebut. Namun, sebaiknya bukan sekadar memberikan biaya sekolah setiap bulan, kata Non.

“Saat memberikan bantuan biaya sekolah, sebaiknya datang langsung ke sekolah anak. Kontrol prestasinya, dekati orangtuanya, minta agar orangtua juga mengawasi anak dalam belajar. Orangtua juga perlu tahu perkembangan anaknya. Banyak orang yang perlu bantuan, tapi jika bantuan yang diberikan tidak bermanfaat maksimal, masih banyak orang lain yang lebih layak dibantu,” tuturnya.

Membantu orang lain juga perlu melihat kebutuhannya, tentu dengan menyesuaikan kemampuan Anda. Menolong dengan sepenuh hati membantu seseorang untuk menjaga konsistensi kebiasaan berbagi. Sebab, dengan begitu, Anda bukan hanya melakukannya untuk membangun citra diri, melainkan juga menunjukkan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.

Bantuan Anda mengubah satu orang, bahkan lingkungan
Tindakan sederhana, menjadi orang tua asuh misalnya, tidak hanya bermanfaat bagi anak yang dibantu sekolahnya, tetapi juga bisa membawa perubahan besar di sekitar Anda. Salah satu perubahan yang paling sering dirasakan Non adalah perubahan sikap, baik sikap anak maupun orangtuanya.

“Mengajak anak dari kalangan tak mampu pergi ke mal bisa meningkatkan kepercayaan diri anak karena mereka merasa punya kesempatan yang sama dengan orang lain yang biasa dilihatnya di televisi atau orang mampu di sekitarnya. Anak yang bersekolah lebih punya sopan santun dan
berubah daripada anak yang tak sekolah. Orangtua melihat perubahan ini. Mereka pun terdorong untuk lebih memedulikan anaknya agar juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk dibantu bersekolah,” Non menjelaskan.

Menurut Non, saat Anda memutuskan membantu seorang anak untuk bersekolah, misalnya, Anda tengah membuat perubahan perilaku individu, masyarakat, bahkan lingkungan.

“Saya meyakini, ketika kita menabur sesuatu, suatu hari akan menjadi pohon besar tanpa tahu apakah nanti pohon ini akan menjadi pelindung bagi anak atau cucu saya,” katanya.

KOMPAS.com

Setan atau Malaikat

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.



Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.

–John Scheffer-


Dari cerita diatas sangat terlihat signifikan bagaimana sikap individualisme dapat mengubah sikap seseorang untuk berbuat apa saja.
maka sangat tidak pantas kita sebagai manusia yang telah diberikan begitu banyak kecukupan oleh Tuhan masih mengeluh atas hal-hal sepele yang seharusnya menjadikan diri kita lebih baik. terus berbagi dan tetap menjaga hubungan antar umat manusia. sesungguhnya kesulitan yang kita hadapi akan membuat diri kita kuat, nukan sebaliknya.

regards
-khaika13-